Wednesday, September 7, 2016

Karung Goni Ajang Kreatifitas Baru

Karung Goni


Karung goni kini menjadi ajang kreatifitas baru bagi para pengrajin bernuansakan material alami dengan segala variasi yang bisa di gabungkan dan dengan berbagai bentuk yang menarik.

Dahulu mungkin karung goni tidak terpikirkan untuk apalagi selain untuk wadah atau kemasan produk-produk pertanian atau perkebunan. Naik setingkat dari itu paling-paling untuk memadamkan api atau kompor bleduk. Tapi sekarang peringkatnya naik dan menjadi barang bergengsi karena di kaitkan dengan kesadaran akan spirit kembali ke alam.

Nah itu dia, dengan begitu sekarang karung goni dan karung goni kaku bisa menjadi tas karung goni, pouch goni, atau apa saja yang unik-unik dan bernilai seni. Bukan saja layak jual tapi juga layak untuk di ajak jalan-jalan kemana saja, dari jalan ke mall sampai ke pantai kini sudah tersedia tasa karung goni untuk menemani.

Di bidang kemasan juga bukan main kebutuhan bahan ini karena jika tujuan marketnya ke bagian Eropa atau Amerika, produk-produk rempah dan juga semacam kopi, konsumen menghendaki kemasan yang ramah terhadap alam dan tidak bisa lain lagi bahannya yakni karung goni. Di bagian depannya biasanya di sablon lengkap dengan gambar dan penjelasan isi produknya, menjadikan isi di dalamnya bertambah gengsinya.

Tapi patut di sayangkan bahwa produk ini semuanya masih import. Biasanya di datangkan dari Bangladesh atau India dan ini memperlihatkan betapa kita tidak bisa bersaing dengan mereka. Mengapa begitu?? Yah...banyak hal kendala merintangi untuk kita bisa memproduksi karung goni dengan harga yang bisa bersaing. Utamanya kemungkinan dari sisi pengadaan bahan baku yang pasti berkaitan dengan para petani.

Kalau sudah menyangkut petani dan hasil pertaniannya, maka tak bisa di pungkiri bahwa persaingannya pasti dengan beras. Para petani lebih suka menanam padi daripada menanam serat rosela sebagai bahan baku karung goni, karena padi lebih mudah menjualnya dan harganya cukup stabil.

Belum lagi pembangunan pabrik dan infrastruktur lainnya, dalam industri karung goni ini kita meungkin tertinggal jauh dengan yang secara tradisional sudah mapan. Maka untuk sementara kita harus menerima kenyataan mendapatkan material ini dari luar, sambil menunggu perkembangan industri goni di tanah air.